Di mobil aku membuka HP ku.Aku pun memandangi foto ayahku yang sedang di luar negri. “Ayah...Aku kangen sama ayah.” Kataku dalam hati. Banyak pertanyaanku tentang kabar dari ayahku dan entah mengapa saat aku selesai melihat foto ayah perasaanku menjadi merasa tidak enak tentang ayah.Sangat jarang aku seperti ini. Sudah 3 tahun ia pergi dan tidak memberikan kabar apapun kepada kami.Mama hanya bisa bersabar dan mengerti. “Mungkin di Amerika menghubungi ke Indonesia sulit.Tenang ajah ma, aku yakin ayah baik-baik saja.” Kata-kataku yang selalu terucap kepada mama jika mama sedang sedih memikirkan ayah.Setiap kami sedang berkumpul, mama selalu berkata bahwa ia sangat rindu kepada ayah.Tapi yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan tabah.
Sampai di rumah aku mencoba mengetuk pintu.Tak tahu apa sebabnya mama tidak membukakan pintu dan tidak ada yang menjawab salamku. “Mas Udin mama kemana sih?Terus, bi Inah mana?Aku ketuk pintu tidak ada yang membukakan.” Tanyaku. “Maaf neng, saya kurang tahu deh, tadi saya pergi menjemput eneng, nyonya masih ada di rumah..Apa Neng coba langsung masuk saja.” Saran Mas Udin. “Ya deh.Kalau begitu makasih ya Mas.” Kataku sambil tersenyum. Anggukan Mas Udin terlihat.Ketika aku ingin melangkahkan kakiku kedalam, jantungku berdenyut sangat kencang. “Assalamulaikum..Mah...Aku pulang...Mama dimana?.” Tanyaku sambil mencari-cari mama.Aku pun memasukki kamar mama dan begitu terkejut.Telphon yang berada di kamar mama bergantung begitu saja, seperti orang yang telah menelphon namun telphonnya terjatuh dan tergantung melayang-layang.Mamaku pingsan dan ku lihat matanya yang penuh dengan rintisan air mata.
4 jam kemudian mamaku sadar. “Via...Mama dimana?.” Tanya mamaku. “Di rumah Mama kok.” Kataku. “Mah..Tadi aku pulang tidak ada yang membukakan pintuku.Dan ternyata bi Inah lagi ke Mini Market untuk membeli sayuran. Tapi...Kok mama menangis dan pingsan di kamar mama...Sepertinya setelah menelphon, mama langsung pingsan gitu.” Tanyaku. “Via..Ada yang perlu kamu tahu tentang ayahmu nak.” Kata mama yang kelihatannya matanya sudah berkaca-kaca. “Apa Ma? Ayah mau pulang?.” Kataku tersenyum. “Iyah Ayah mau pulang dengan keadaan nyawa yang sudah tiada. Jenazahnya akan sampai esok di Indonesia.” Kata mama yang semakin lama mengeluarkan air mata. “Maksud mama ayah meninggal.Gak mungkin ma...Ayah tidak mungkin meninggal.” Kataku yang langsung masuk kedalam kamarku.
Aku sangat tidak percaya tentang meninggalnya ayah.Namun, mama berkata bahwa segala seusatu yang tuhan berikan haruslah kita syukuri. Entah nikmat yang kecil ataupun besar.Entah mengecewakan atau menyenangkan.Itu semua dari Tuhan.Banyak hikmah yang terkandung dari nikmat yang Tuhan berikan.Jika aku terus-menerus menangis, berati aku tidak merelakan ayahku diambil oleh tuhan.Aku mengusap semua air mata yang ada di mataku.Aku menceritakan kepada Sintia.Dia hanya bisa berkata ‘yang tabah ya Vi..’.
Seusai pemakaman kami meninggalkan pemakaman tersebut.Aku sudah tau akibat dari meninggalnya ayahku.Ia menderita Kanker Otak yang ia miliki semenjak 3 tahun yang lalu.Ia merahasiakan ini dari kami karena takut kami menjadi khawatir.Ayah pergi ke Amerika dengan alasan yang sesungguhnya adalah, menutupi penyakitnya dari kami.Kami sangat sedih ayah telah meninggalkan kami.Namun semua sudah berlalu, aku pun harus tegar.Apapun yang terjadi semuanya harus kita lewati dengan senyuman.Walaupun ini adalah kisah yang bagiku sangatlah sedih, namun mau apa lagi...Ini semua adalah kehendak Tuhan yang kita tidak bisa duga.
Bersambung.
