Sobat aku merasa tidak enak dengannya, iya dengan Santi..
dia hanya tersenyum dan menatapku sambil membawa novel yang ingin ia baca di perpustakaan.
Sobat...
apa Santi tahu kalau aku sudah memiliki perasaan yang sama dengan Firza? Apa dia akan menjauhiku setelah dia tahu perasaanku saat ini? Aku merasa serba salah!
Lalu, Santi mendekatiku.Dia menepuk pundakku.
"Cieee..yang tadi abis kirim salam buat Firza." kata Santi sambil tertawa setelah itu.
"Enggak sih yeeeh..Gue cuma bercanda aja sama Revan."
"Masa sih Vi??."
"iya san..beneran deh."
"Oyah Vi, gue lagi ngidam rujak deh..Pulang sekolah anterin gue beli rujak ya?? yayayyaa?? Pleaseeee." Ajak Santi sambil memohon.
"ayuuk."
"yaudah deh, mending sekarang kita ke kelas aja, abis ini kan ada ulangan Matematika.Lo udah belajar?."
"hahaha udah sih, tapi gitu deh."
"gitu gimana?."
"gituuu deh, ada yang masuk ada yang enggak."
Kami pun berjalan menuju kelas sambil tertawa bersama.
Di Kelas.
Bu Inggrid, guru matematika kami sudah memasukki kelas dan duduk di kursinya.
"baik anak-anak sekarang masukkan semua buku yang ada di meja kalian."
Kata bu inggrid sambil memegang tumpukkan soal ulangan Matematika yang akan kita hadapi.
Setelah Ulangan selesai, kami melanjutkan pelajaran setelah itu.Yaitu pelajaran IPS.
Saat pelajaran IPS berlangsung, ada sebuah kertas yang terlempar dan jatuh di mejaku.Aku membukanya.
Via..
pulang sekolah, gue mau ajakkin lo ke sebuah tempat...ROMANTIS deh Vi! Pasti lo bakalan seneng kok, gue ga akan bikin lo dimarahin mama lo karna pulang malem..So, santai aja ya..
FIRZA si pangeran tampanmu
"WHAT??? pangeran tampan ? gaya amat sih nih orang." kataku dalam hati.
Seusai pelajaran IPS, aku menuju ke meja Firza.
"maaf ya, gue ada urusan." Kataku sambil dengan nada malas dan kesal.
"yah..Kali ini aja..Pleaseee..."
"Gak bisa Zaa...Gue kan udah bilang kalo gue ada urusan.." Jawabku sambil berusaha meninggalkan Firza.
Lalu Firza meraih tanganku, dan mencoba menggagalkan kepergianku.
"Vi, tapi lain kali bisa kan?."
Sobat...aku benar-benar mati rasa saat itu, lalu aku menjawab dengan nada rendah sambil memperhatikan kedua bola mata Firza
"Iya Za." tersenyum
Aku meninggalkan tempat Firza.
OYAH SOBAT!!! Santi??? Dia melihat kejadian itu dan tersenyum sambil menahan tertawa.
"Jadi, ada yang di ajak jalan sama Firza?." ucap Santi.
"Gue tolak lah San, lagian juga gue ada janji sama lo."
"batalin aja Vi janji makan rujaknya, mending lo jalan deh sama pangeran tampan lo itu." jawab Santi sambil tertawa
"Enggak, dia bukan pangeran kok.Lagian gue mau nepatin janji makan rujak sama lo."
"iya deh Vi, tapi besok lo harus jalan sama dia."
"emang kenapa San?."
"Gue cuma mau lo bahagiain dia kok."
"San.."
"Vi, Ujian tengah Semester 2 minggu lagi kan? Gue harus belajar ekstra deh." Kata Santi sambil memotong pembicaraanku, sepertinya dia berusaha untuk membuatku tidak menanyakan soal maksud kata-kata dia tadi.
"Iya nih San, gue gak sabar sama liburan panjaaaang kita."
"betulll..gue Juga." jawab Santi mengiyakan
Bel pulang berbunyi.
Aku dan Santi hari ini pulang dengan kendaraan umum, tidak menggunakan sopir terlebih dahulu.Mengapa? iyaps Sobat, karena kita ingin membeli Rujak, dan saat ini aku dan Santi sedang mencari tukang rujak yang biasanya mangkal di depan mini market yang tidak jauh dari sekolah kami.Disana disediakan tempat duduk, kami pun duduk di sana.
Keesokkan harinya.
"Nih, nasi goreng seafood yang pertama kali mama bikinnya gak asin." kata mamaku sambil menaruh nasi di piringku yang masih kosong.
"Ma, seasin asinnya masakkan mama..Tetap saja masakkan mama tidak ada duanya di dunia ini."
"ah kamuuu bisa saja.." jawab mama sambil tersipu malu.
Aku melanjutkan untuk memakan Nasi Goreng Seafood ala mamaku, dan berangkat ke sekolah setelah memakai sepatuku.
Di perjalanan, aku sangaaat bosan.Karena selain tidak berangkat dengan pak udin, perjalanan di pagi itu juga sangat macet.Entah mengapa?Yang jelas tidak biasanya seperti ini.
Sampai sekolah aku meletakkan tasku dan berdiri di balkon depan kelas.
"Hai Bidadari." Ucap salah satu pria di belakangku, yang berhasil membuatku terkejut.
"Apaan sih?."
"Eh, hari ini jadi kan?."
"jadi apaan?."
"jalan..."
"Gue tau gue itu udah ngasih kesempatan untuk jalan bareng lo lain kali, tapi lain kalinya bukan sekarang juga kaliii."
"yah kok gitu? Tolong dong Vi.."
Aku terdiam, aku merasa tidak enak dengan Santi nantinya.Tapi aku teringat oleh perkataan Santi untuk membahagiakan Firza, yasudah aku menjawab singkat "Ya."
Firza langsung loncat-loncat, sambil mengucapkan "yess!!Yess!!."
"Dih kenapa lo?." tanyaku sinis.
"Gue seneng banget, karena baru pertama kalinya gue ngajak orang jalan langsung."
"ah kemaren juga lewat surat."
"itu kan kemarin nyil.."
"jangan panggil gue UNYIL!!." sambil menepis pundak Firza.
"maaf deh nyiiii.....eh maksud gue bidadari."
Firza...Firza..Gue benci lo sekarang, kenapa dia bisa membuatku tersenyum saat ini?Apa aku sudah benar-benar yakin bahwa aku mencintainya? Tapi Santi? Aku tidak boleh mengikuti perasaanku, dan melupakan perasaan sahabatku.
Bel masuk pun tidak lama berbunyi, tidak biasanya Santi datang terlambat hari ini.Namun sobat, lama-kelamaan aku tidak melihat kedatangan Santi, dan aku menyadari bahwa mungkin hari ini dia tidak masuk.Tidak biasanya lhoh dia tidak masuk tanpa memberi tahuku terlebih dahulu.
Lalu wali kelasku yaitu Bu Endang masuk ke kelasku, aneh...Padahal sekarang bukanlah jam pelajarannya.
"Anak-anak, hari ini salah satu teman kita yang bernama Sintia mengalami kecelakaan tadi pagi.Keadaanya sekarang belum sadaar, akibat benturan yang sangat keras karena kecelakaan tersebut."
Sobat, aku sangat sedih dan tidak bisa menahan tangisanku saat ini.Aku menangis di kelas, lalu Firza mendekatiku.
"Siang ini, gue anter lo ke rumah sakit."
aku mengangguk.
Firza memberikan tissue dan aku tidak mengambilnya karena aku tidak menyadarinya.Lalu Firza mengusapkan tissue disekitar mataku, seakan-akan berusaha menghapus kesedihanku.
"lo tau kan Za..Santi sahabat gue."
"iya gue tau kok." Firza tersenyum, sambil mengisyaratkan bahwa dia juga mengerti apa yang aku rasakan.
Pulang sekolah.
"Vi..Pake nih." sambil menyodorkan sebuah helm keselamatan berwana biru muda.
aku mengangguk lalu memakai helm tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, aku menuju ke meja informasi tentang ruang pasien.
"Sus, ruang pasien yang bernama Sintia Vannes dimana ya?." tanyaku kepada seorang yang memakai baju putih itu.
"sebentar saya cari dahulu."
"cepat ya sus." kataku tergesah-gesah.
"ruang C14 di lantai 3."
"terimakasih ya sus."
aku langsung berlari bersama Firza ke ruang tersebut.
Terlihat kedua orang tua Sinta yang sedang berada di dalam ruangan.Aku mengetuk pintu, lalu memasukki ruangan tersebut.
"Permisi om, tante.kami berdua salah satu dari teman Sinta."
"Baik, silahkan menjenguknya.Kami tinggal keluar sebentar yah."
"Baik tante."
Bersambung
dia hanya tersenyum dan menatapku sambil membawa novel yang ingin ia baca di perpustakaan.
Sobat...
apa Santi tahu kalau aku sudah memiliki perasaan yang sama dengan Firza? Apa dia akan menjauhiku setelah dia tahu perasaanku saat ini? Aku merasa serba salah!
Lalu, Santi mendekatiku.Dia menepuk pundakku.
"Cieee..yang tadi abis kirim salam buat Firza." kata Santi sambil tertawa setelah itu.
"Enggak sih yeeeh..Gue cuma bercanda aja sama Revan."
"Masa sih Vi??."
"iya san..beneran deh."
"Oyah Vi, gue lagi ngidam rujak deh..Pulang sekolah anterin gue beli rujak ya?? yayayyaa?? Pleaseeee." Ajak Santi sambil memohon.
"ayuuk."
"yaudah deh, mending sekarang kita ke kelas aja, abis ini kan ada ulangan Matematika.Lo udah belajar?."
"hahaha udah sih, tapi gitu deh."
"gitu gimana?."
"gituuu deh, ada yang masuk ada yang enggak."
Kami pun berjalan menuju kelas sambil tertawa bersama.
Di Kelas.
Bu Inggrid, guru matematika kami sudah memasukki kelas dan duduk di kursinya.
"baik anak-anak sekarang masukkan semua buku yang ada di meja kalian."
Kata bu inggrid sambil memegang tumpukkan soal ulangan Matematika yang akan kita hadapi.
Setelah Ulangan selesai, kami melanjutkan pelajaran setelah itu.Yaitu pelajaran IPS.
Saat pelajaran IPS berlangsung, ada sebuah kertas yang terlempar dan jatuh di mejaku.Aku membukanya.
Via..
pulang sekolah, gue mau ajakkin lo ke sebuah tempat...ROMANTIS deh Vi! Pasti lo bakalan seneng kok, gue ga akan bikin lo dimarahin mama lo karna pulang malem..So, santai aja ya..
FIRZA si pangeran tampanmu
"WHAT??? pangeran tampan ? gaya amat sih nih orang." kataku dalam hati.
Seusai pelajaran IPS, aku menuju ke meja Firza.
"maaf ya, gue ada urusan." Kataku sambil dengan nada malas dan kesal.
"yah..Kali ini aja..Pleaseee..."
"Gak bisa Zaa...Gue kan udah bilang kalo gue ada urusan.." Jawabku sambil berusaha meninggalkan Firza.
Lalu Firza meraih tanganku, dan mencoba menggagalkan kepergianku.
"Vi, tapi lain kali bisa kan?."
Sobat...aku benar-benar mati rasa saat itu, lalu aku menjawab dengan nada rendah sambil memperhatikan kedua bola mata Firza
"Iya Za." tersenyum
Aku meninggalkan tempat Firza.
OYAH SOBAT!!! Santi??? Dia melihat kejadian itu dan tersenyum sambil menahan tertawa.
"Jadi, ada yang di ajak jalan sama Firza?." ucap Santi.
"Gue tolak lah San, lagian juga gue ada janji sama lo."
"batalin aja Vi janji makan rujaknya, mending lo jalan deh sama pangeran tampan lo itu." jawab Santi sambil tertawa
"Enggak, dia bukan pangeran kok.Lagian gue mau nepatin janji makan rujak sama lo."
"iya deh Vi, tapi besok lo harus jalan sama dia."
"emang kenapa San?."
"Gue cuma mau lo bahagiain dia kok."
"San.."
"Vi, Ujian tengah Semester 2 minggu lagi kan? Gue harus belajar ekstra deh." Kata Santi sambil memotong pembicaraanku, sepertinya dia berusaha untuk membuatku tidak menanyakan soal maksud kata-kata dia tadi.
"Iya nih San, gue gak sabar sama liburan panjaaaang kita."
"betulll..gue Juga." jawab Santi mengiyakan
Bel pulang berbunyi.
Aku dan Santi hari ini pulang dengan kendaraan umum, tidak menggunakan sopir terlebih dahulu.Mengapa? iyaps Sobat, karena kita ingin membeli Rujak, dan saat ini aku dan Santi sedang mencari tukang rujak yang biasanya mangkal di depan mini market yang tidak jauh dari sekolah kami.Disana disediakan tempat duduk, kami pun duduk di sana.
Keesokkan harinya.
"Nih, nasi goreng seafood yang pertama kali mama bikinnya gak asin." kata mamaku sambil menaruh nasi di piringku yang masih kosong.
"Ma, seasin asinnya masakkan mama..Tetap saja masakkan mama tidak ada duanya di dunia ini."
"ah kamuuu bisa saja.." jawab mama sambil tersipu malu.
Aku melanjutkan untuk memakan Nasi Goreng Seafood ala mamaku, dan berangkat ke sekolah setelah memakai sepatuku.
Di perjalanan, aku sangaaat bosan.Karena selain tidak berangkat dengan pak udin, perjalanan di pagi itu juga sangat macet.Entah mengapa?Yang jelas tidak biasanya seperti ini.
Sampai sekolah aku meletakkan tasku dan berdiri di balkon depan kelas.
"Hai Bidadari." Ucap salah satu pria di belakangku, yang berhasil membuatku terkejut.
"Apaan sih?."
"Eh, hari ini jadi kan?."
"jadi apaan?."
"jalan..."
"Gue tau gue itu udah ngasih kesempatan untuk jalan bareng lo lain kali, tapi lain kalinya bukan sekarang juga kaliii."
"yah kok gitu? Tolong dong Vi.."
Aku terdiam, aku merasa tidak enak dengan Santi nantinya.Tapi aku teringat oleh perkataan Santi untuk membahagiakan Firza, yasudah aku menjawab singkat "Ya."
Firza langsung loncat-loncat, sambil mengucapkan "yess!!Yess!!."
"Dih kenapa lo?." tanyaku sinis.
"Gue seneng banget, karena baru pertama kalinya gue ngajak orang jalan langsung."
"ah kemaren juga lewat surat."
"itu kan kemarin nyil.."
"jangan panggil gue UNYIL!!." sambil menepis pundak Firza.
"maaf deh nyiiii.....eh maksud gue bidadari."
Firza...Firza..Gue benci lo sekarang, kenapa dia bisa membuatku tersenyum saat ini?Apa aku sudah benar-benar yakin bahwa aku mencintainya? Tapi Santi? Aku tidak boleh mengikuti perasaanku, dan melupakan perasaan sahabatku.
Bel masuk pun tidak lama berbunyi, tidak biasanya Santi datang terlambat hari ini.Namun sobat, lama-kelamaan aku tidak melihat kedatangan Santi, dan aku menyadari bahwa mungkin hari ini dia tidak masuk.Tidak biasanya lhoh dia tidak masuk tanpa memberi tahuku terlebih dahulu.
Lalu wali kelasku yaitu Bu Endang masuk ke kelasku, aneh...Padahal sekarang bukanlah jam pelajarannya.
"Anak-anak, hari ini salah satu teman kita yang bernama Sintia mengalami kecelakaan tadi pagi.Keadaanya sekarang belum sadaar, akibat benturan yang sangat keras karena kecelakaan tersebut."
Sobat, aku sangat sedih dan tidak bisa menahan tangisanku saat ini.Aku menangis di kelas, lalu Firza mendekatiku.
"Siang ini, gue anter lo ke rumah sakit."
aku mengangguk.
Firza memberikan tissue dan aku tidak mengambilnya karena aku tidak menyadarinya.Lalu Firza mengusapkan tissue disekitar mataku, seakan-akan berusaha menghapus kesedihanku.
"lo tau kan Za..Santi sahabat gue."
"iya gue tau kok." Firza tersenyum, sambil mengisyaratkan bahwa dia juga mengerti apa yang aku rasakan.
Pulang sekolah.
"Vi..Pake nih." sambil menyodorkan sebuah helm keselamatan berwana biru muda.
aku mengangguk lalu memakai helm tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, aku menuju ke meja informasi tentang ruang pasien.
"Sus, ruang pasien yang bernama Sintia Vannes dimana ya?." tanyaku kepada seorang yang memakai baju putih itu.
"sebentar saya cari dahulu."
"cepat ya sus." kataku tergesah-gesah.
"ruang C14 di lantai 3."
"terimakasih ya sus."
aku langsung berlari bersama Firza ke ruang tersebut.
Terlihat kedua orang tua Sinta yang sedang berada di dalam ruangan.Aku mengetuk pintu, lalu memasukki ruangan tersebut.
"Permisi om, tante.kami berdua salah satu dari teman Sinta."
"Baik, silahkan menjenguknya.Kami tinggal keluar sebentar yah."
"Baik tante."
Bersambung
